Perilaku Anak Yang Seharusnya Tidak Kita Abaikan

Perilaku Anak

Perilaku anak yang seharusnya tidak kita abaikan atau yang menjadi perhatian khusus bagi para orang tua adalah sikap tidak melakukan pembiaran atau pemakluman tanpa tindakan antisipasi ketika anak mereka berperilaku yang kurang tepat, tidak sopan, bahkan buruk dan salah. Tidak adanya sikap untuk menegur atau melerai, sehingga perilaku yang kurang tepat tersebut menjadi sebuah kebiasaan si anak.

Sebelumnya judul ini terinspirasi oleh program Mozaik, yaitu acara radio Suara Muslim Surabaya, pada tanggal 13 Oktober 2021 oleh Bunda Yirawati sebagai narasumbernya. Banyak pelajaran tentang parenting di acara Mozaik ini, acara ini berlangsung di setiap hari Rabu jam satu siang. Kita bisa mendengarkan di frekuensi 93.8 FM untuk daerah Surabaya, atau bisa secara langsung di web Suara Muslim Surabaya jika ada di luar kota.

Terkadan kita tidak menyadari bahwa anak-anak kita melakukan perilaku yang kurang tepat. Kita menganggap perilaku itu sebagai hal wajar bahkan terlihat lucu. Seperti contoh beberapa tahun sebelumnya, ada anak balita yang kecanduan rokok dan menjadi viral di masyarakat. Ada beberapa orang yang menganggapnya lucu, tapi ini adalah perilaku yang kurang tepat sehingga harus kita antisipasi dengan terapi. Ada beberapa perilaku anak yang seharusnya tidak kita abaikkan;

Perilaku Anak Yang Berkata Kasar (Berkata Tidak Baik)

Anak adalah sebaik-baik peniru, mereka meniru dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Tentu saja yang mereka lihat, dengar, dan rasakan adalah lingkungan sekitar. Adapun anak mengatakan kata hewan-hewanan, ketika tidak ada contoh dari lingkungan, mengatakannya dengan tekanan mengumpat, maka kata-kata itu hanya menerangan kata sebenarnya (bukan kata umpatan).

Ada peristiwa menarik. Ketika seorang ibu dan anaknya dalam suatu perjalanan sepeda motor, ada dua kendaraan di depan mereka, yaitu mobil dan di depan mobil ada motor yang melakukan putar balik di area yang bukan untuk tempat putar balik. Dalam kondisi kecepatan sekitar 40 Km/jam, mobil melakukan pengereman mendadak dan motor melakukan hal yang sama sehingga hampir terjadi kecelakaan. Spontanitas sang ibu beristighfar, dan sekaligus melihat kelalaian pemotor pertama membuat sang ibu juga melayangkan umpatan ”Gob**k” pada pemotor pertama. Sebelumnya di lingkungan sang ibu pada keluarga kecilnya adalah membatasi ruang perkataan kasar. Untung ketika ibu mengkonfirmasi anaknya sambil minta maaf, sang anak mengatakan “gelembung”.

Baca Juga :   Negosiasi dengan Anak agar Mau Belajar

Perilaku Anak Yang Lupa Atau Tidak Mau Minta Maaf, Terimakasih, Dan Permisi

Meminta maaf adalah bentuk penyesalan ketika berbuat salah, terimakasih adalah bentuk apresiasi penghargaan pada orang lain yang berjasa, sedangkan kata permisi adalah permintaan izin, atau perkenan pada orang lain jika ingin melakukan sesuatu, karena bentuk penghormatan atau sesuatu yang dapat menahan sejenak “hak” orang lain.
Secara tidak langsung kata-kata minta maaf, terimakasih, dan permisi adalah salah satu yang berkaitan dengan pendidikan pertama tentang adab (sopan santun). Bahkan merupakan bentuk simpati dan empati yang menimbulkan umpan balik yang sama. Lebih ekstrim lagi dapat meluruskan permasalahan sosial.

Perilaku Anak Yang Mudah Marah, Emosi Tidak Jelas (Tantrum)

Marah adalah bentuk emosi yang wajar pada anak, tapi jika kemarahan itu sering terjadi dan mudah tersulut, maka itu tidak boleh kita abaikan. Kemarahan yang tidak wajar bisa menyebabkan sesuatu rusak, entah barang sekitar, emosi orang di sekitar, bahkan dapat merusak hubungan. Sifat merusak inilah yang harus kita antisipasi.

Alternatif Solusi

Selalu mendo’akan agar anak terhidar dari perkara yang buruk. Banyak keterbatasan kita yang kita miliki untuk menyaring apa yang anak-anak konsumsi. Mereka akan tumbuh dan menemukan lingkungan yang juga akan mempengaruhi karakter mereka.

baca juga Pendampingan Anak TK A Belajar Di Rumah

Memilih lingkungan sekitar yang positif. Sebenarnya ini bukan perrkara yang mudah dan murah kalau kita tidak bisa memilih, mungkin kita bisa membuatnya. Keluarga adalah tempat pertama yang mempengaruhi tumbuh kembang mereka.

Melakukan antisipasi jika mereka melakukan hal-hal yang kurang baik dengan menegur melalui cara yang efektif, mungkin bisa dengan melalui bisikan, atau bahkan suatu kisah-kisah orang hebat sebagai nasihat. Kita pun juga harus tidak segan menegur dengan baik teman-teman anak-anak kita jika melakukan hal-hal yang tidak baik. Agar selain mereka tidak melakukannya kembali juga dapat menciptakan lingkungan yang madani.

4 pemikiran pada “Perilaku Anak Yang Seharusnya Tidak Kita Abaikan”

  1. Anak saya yang kedua nih mudah tantrum, sementara yang pertama suka godain, hadehhh.
    Terus anak kedua ini terpapar kata-kata kotor dari tetangga sebelah, rasanya capek tiap hari mengingatkan, baik dengan lembut sampai melotot, sampai kadang saya cubit pipinya saking gemes hehehehe.

    tapi memang si adik ini beda sih, anak pertama saya lebih kalem, dia nggak berani ngomong kasar, tapi ya gitu, lemes aja nggak kreatif hahaha

    Balas
  2. lingkungan secara nggak langsung memang berpengaruh banget ke emosi anak
    kadang nih kalau anak terbiasa ngeliat orang yang lebih tua ngomong keras atau kayak bentak gitu, si anak bisa ikutan ngomongnya suka nge-gas
    terus orang gede ngomong apa, si anak suka ikut ikutan.
    makanya kalau ada keponakannku dirumah, sebisa mungkin yang gede menjaga omongan juga, biar ga gampang ditirukan

    Balas

Tinggalkan komentar